Sabtu, 05 Mei 2018

MODERNISASI DI MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN



Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang modernisasi yang ada di Museum Purbakala Sangiran. Artikel ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Pembangunan. Di dalam artikel saya akan menjelaskan bagaimana modernisasi yang terjadi di Museum Purbakala Sangiran.

Ini merupakan foto saya dan teman saya yang melakukan kunjungan
 
Perkembangan zaman yang semakin pesat, memaksa kita untuk mengikuti perkembangan yang ada. Perkembangan zaman bisa disebabkan karena berbagai hal, seperti adanya modernisasi disuatu tempat. Modernisasi merupakan suatu perubahan dari keadaan yang kurang mampu atau berkembang menjadi keadaan yang maju atau lebih baik, dengan harapan agar kehidupan yang ada di masyarakat menjadi lebih makmur dan sejahtera. Modernisasi tidak hanya terjadi di kota-kota besar, akan tetapi di tempat-tempat wisata juga mengalami modernisasi. Salah satu contoh tempat wisata yang mengalami modernisasi adalah Museum Sangiran yang berada di Jawa Tengah.

Museum Sangiran terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.  Museum ini merupakan objek wisata menarik mengenai sejarah peradaban manusia pada masa lampau. Sangiran menjadi situs yang sangat penting untuk perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti arkeologi, geologi, antropologi, biologi, dan paleoantropologi. Selain itu, di tempat ini kita juga dapat mempelajari sejarah kehidupan manusia pada zaman purba dulu dan bagaimana manusia berevolusi sampai saat sekarang ini. Tidak hanya fosil manusia saja yang ada di sangiran, tetapi ada banyak macam fosil yang telah ditemukan, seperti hasil-hasil budaya manusia purba, fosil flora dan fauna purba beserta gambaran stratigrafinya.

Tampak terlihat pengunjung sedang mengamati sejarah manusia pada zaman dahulu

Museum dengan motto “The Homeland of Java Man” ini merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di Dunia. Sebagian fosil manusia purba Sangiran disimpan di Museum Geologi Bandung dan Museum Palaenthropologi Yogyakarta. Maka tidak heran jika Sangiran ditetapkan sebagai situs warisan dunia Nomor 593 oleh Komite World Heritage pada saat peringatan ke-20 tahun di Merida, Meksiko pada tahun 1996.

Kawasan Sangiran memiliki keistimewaan dimana dahulu wilayah ini merupakan kawasan laut yang cukup luas. Namun, sebab adanya letusan gunung berapi, seperti Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, kawasan Sangiran menjadi daratan. Penemuan fosil-fosil manusia purba di sangiran tidak lepas dari seorang ahli paleoantropologi yang bernama G.H.R.Von Koenigswald yang melakukan penelitian pada tahun  1934.

Ini foto saya dan teman-teman saya saat mengamati sisa tulang gajah pada zama dahulu

Pada awalnya Von Koenigswald melatih para masyarakat desa untuk mengenali fosil dan cara yang baik untuk memperlakukan fosil yang ditemukan dengan baik. Dari hasil temuan fosil tersebut, kemudian dikumpulkan di rumah kepala desa Krikilan sampai tahun 1975. Akan tetapi, karena banyaknya wisatawan yang datang untuk berkunjung, maka muncullah ide untuk membangun sebuah museum.

Dari awal didirikannya, Sangiran sudah mengalami modernisasi akibat dari adanya perubahan zaman yang semakin canggih. Bangunan tersebut sekarang terdiri dari ruang pameran, aula, laboratorium, perpustakaan, ruang audio visual (tempat pemutaran film tentang kehidupan manusia prasejarah), gudang penyimpanan, musholla, toilet, area parkir, dan kios souvenir.

Terlihat dari atas toilet yang tidak terlalu besar

Meskipun Sangiran sudah mengalami modernisasi dari zaman ke zaman, akan tetapi masih ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pihak pengelola Museum Sangiran untuk memperbaiki fasilitas yang ada. Kurangnya tempat sampah yang ada di Sangiran terkadang menyulitkan para wisatawan untuk membuang sampah. Kejadian seperti itu saya alami sendiri ketika saya melakukan observasi ke Sangiran dan bingung mencari tempat sampah yang ada. Tempat sampah yang ada di sangiran juga terbilang masih sederhana, karena tempat sampah nya hanya dari tong biasa dan 1 tong sampah berisikan berbagai macam jenis sampah.

Musholla tampak dari depan

Akses tranportasi umum dan akses internet yang kurang terjangkau menjadi keluhan juga untuk para wisatawan yang sedang berkunjung. Hal tesebut saya rasakan sendiri ketika sedang menunggu teman saya di area parkiran dan mencoba untuk menghubunginya karena tertinggal di belakang. Akses internet untuk di area parkiran masih ada walaupun hanya besifat GSM (geser sedikit menghilang), akan tetapi jika sudah masuk kedalam museum sinyal kita akan benar-benar hilang dan sulit untuk menyambung ke internet.

Tampak dari atas Musholla yang lumayan besar

Untuk menuju Museum Sangiran kita dapat menggunakan tranportasi pribadi, seperti motor atau mobil. Transportasi umum yang tersedia untuk ke Sangiran terbilang sangat susah, dikarenakan tidak ada angkutan umum yang mengantar wisatawan sampai ke Sangiran. Rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Sangiran lebih memilih mode transportasi pribadi, karena lebih efisien dan efektif.

Fasilitas yang ada di Sangiran menurut saya sudah baik, seperti adanya ruang audio visual, laboraorium, perpustakaan, tempat parkir yang luas, dan musholla yang lumayan terbilang besar. Akan tetapi masih ada beberapa fasilitas yang kurang baik, seperti toilet yang tidak terlalu banyak untuk para wisatawan yang tentu saja hal tersebut akan menimbulkan antrian yang panjang jika libur panjang dan banyaknya wisatawan yang berkunjung.

Ini merupakan warung yang miliki oleh para pendudukan lokal

Untuk pemberdayaan masyarakat lokal di Musem Sangiran yang saya tahu, masyarakat lokal hanya berjualan di area parkir kendaraan. Mereka memperoleh penghasilan dari jualan sehari-hari dan kebanyakan yang menjaga warung-warung atau tempat souvenir adalah seorang wanita. Jarang sekali saya melihat ada laki-laki yang menjaga warung atau berjualan, selain pedagang yang berjualan membawa gerobak di motor, seperti cilok dan sosis bakar.

Jadi, Museum Sangiran merupakan Museum Purbakala terbesar di Asia bahkan di dunia yang telah dianugerahi sebagai situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 1996. Sejak awal didirikannya, Museum ini sudah mengalami perubahan modernisasi sangat signifikan. Hal tersebut terbukti dari bentuk bangunan dan fasilitas yang ada di Museum ini sudah canggih mengikuti perkembangan zaman. Walaupun  Museum ini sudah mengalami modernisasi, ada beberapa aspek yang tidak mengalami modernisasi, seperti akses internet yang kurang stabil, akses transportasi umum yang belum ada, toilet yang kurang banyak, pemberdayaan masyarakat lokal yang masih kurang, dan terakhir tempat sampah yang kurang layak karena hanya ada 1 tong sampah di beberapa tempat yang digunakan untuk membuang berbagai macam sampah.





DAFTAR PUSTAKA
http://www.ilmudasar.com/2017/04/Pengertian-Ciri-dan-Dampak-Modernisasi-adalah.html
https://www.museumindonesia.com/museum/19/1/Museum_Purbakala_Sangiran_Sragen
http://www.idsejarah.net/2017/02/museum-sangiran.html

1 komentar: