Pada
tulisan kali ini saya akan membahas tentang modernisasi yang ada di Museum
Purbakala Sangiran. Artikel ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori Pembangunan. Di dalam artikel saya akan menjelaskan bagaimana modernisasi
yang terjadi di Museum Purbakala Sangiran.
![]() |
| Ini merupakan foto saya dan teman saya yang melakukan kunjungan |
Perkembangan
zaman yang semakin pesat, memaksa kita untuk mengikuti perkembangan yang ada.
Perkembangan zaman bisa disebabkan karena berbagai hal, seperti adanya
modernisasi disuatu tempat. Modernisasi merupakan suatu perubahan dari keadaan
yang kurang mampu atau berkembang menjadi keadaan yang maju atau lebih baik,
dengan harapan agar kehidupan yang ada di masyarakat menjadi lebih makmur dan
sejahtera. Modernisasi tidak hanya terjadi di kota-kota besar, akan tetapi di
tempat-tempat wisata juga mengalami modernisasi. Salah satu contoh tempat
wisata yang mengalami modernisasi adalah Museum Sangiran yang berada di Jawa
Tengah.
Museum Sangiran terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Museum ini merupakan objek wisata menarik mengenai sejarah peradaban manusia pada masa lampau. Sangiran menjadi situs yang sangat penting untuk perkembangan berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti arkeologi, geologi, antropologi, biologi, dan paleoantropologi. Selain itu, di tempat ini kita juga dapat mempelajari sejarah kehidupan manusia pada zaman purba dulu dan bagaimana manusia berevolusi sampai saat sekarang ini. Tidak hanya fosil manusia saja yang ada di sangiran, tetapi ada banyak macam fosil yang telah ditemukan, seperti hasil-hasil budaya manusia purba, fosil flora dan fauna purba beserta gambaran stratigrafinya.
![]() |
| Tampak terlihat pengunjung sedang mengamati sejarah manusia pada zaman dahulu |
Museum
dengan motto “The Homeland of Java Man”
ini merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di Dunia.
Sebagian fosil manusia purba Sangiran disimpan di Museum Geologi Bandung dan Museum
Palaenthropologi Yogyakarta. Maka tidak heran jika Sangiran ditetapkan sebagai
situs warisan dunia Nomor 593 oleh Komite World Heritage pada saat
peringatan ke-20 tahun di Merida, Meksiko pada tahun 1996.
Kawasan
Sangiran memiliki keistimewaan dimana dahulu wilayah ini merupakan kawasan laut
yang cukup luas. Namun, sebab adanya letusan gunung berapi, seperti Gunung
Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, kawasan Sangiran menjadi daratan.
Penemuan fosil-fosil manusia purba di sangiran tidak lepas dari seorang ahli
paleoantropologi yang bernama G.H.R.Von Koenigswald yang melakukan penelitian
pada tahun 1934.
![]() |
| Ini foto saya dan teman-teman saya saat mengamati sisa tulang gajah pada zama dahulu |
Pada
awalnya Von Koenigswald melatih para masyarakat desa untuk mengenali fosil dan
cara yang baik untuk memperlakukan fosil yang ditemukan dengan baik. Dari hasil
temuan fosil tersebut, kemudian dikumpulkan di rumah kepala desa Krikilan
sampai tahun 1975. Akan tetapi, karena banyaknya wisatawan yang datang untuk
berkunjung, maka muncullah ide untuk membangun sebuah museum.
Dari
awal didirikannya, Sangiran sudah mengalami modernisasi akibat dari adanya
perubahan zaman yang semakin canggih. Bangunan tersebut sekarang terdiri dari
ruang pameran, aula, laboratorium, perpustakaan, ruang audio visual (tempat
pemutaran film tentang kehidupan manusia prasejarah), gudang penyimpanan,
musholla, toilet, area parkir, dan kios souvenir.
![]() |
| Terlihat dari atas toilet yang tidak terlalu besar |
Meskipun
Sangiran sudah mengalami modernisasi dari zaman ke zaman, akan tetapi masih ada
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pihak pengelola Museum Sangiran untuk
memperbaiki fasilitas yang ada. Kurangnya tempat sampah yang ada di Sangiran
terkadang menyulitkan para wisatawan untuk membuang sampah. Kejadian seperti
itu saya alami sendiri ketika saya melakukan observasi ke Sangiran dan bingung
mencari tempat sampah yang ada. Tempat sampah yang ada di sangiran juga
terbilang masih sederhana, karena tempat sampah nya hanya dari tong biasa dan 1
tong sampah berisikan berbagai macam jenis sampah.
![]() |
| Musholla tampak dari depan |
Akses
tranportasi umum dan akses internet yang kurang terjangkau menjadi keluhan juga
untuk para wisatawan yang sedang berkunjung. Hal tesebut saya rasakan sendiri
ketika sedang menunggu teman saya di area parkiran dan mencoba untuk
menghubunginya karena tertinggal di belakang. Akses internet untuk di area
parkiran masih ada walaupun hanya besifat GSM (geser sedikit menghilang), akan
tetapi jika sudah masuk kedalam museum sinyal kita akan benar-benar hilang dan
sulit untuk menyambung ke internet.
![]() |
| Tampak dari atas Musholla yang lumayan besar |
Untuk
menuju Museum Sangiran kita dapat menggunakan tranportasi pribadi, seperti
motor atau mobil. Transportasi umum yang tersedia untuk ke Sangiran terbilang
sangat susah, dikarenakan tidak ada angkutan umum yang mengantar wisatawan
sampai ke Sangiran. Rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Sangiran lebih
memilih mode transportasi pribadi, karena lebih efisien dan efektif.
Fasilitas
yang ada di Sangiran menurut saya sudah baik, seperti adanya ruang audio
visual, laboraorium, perpustakaan, tempat parkir yang luas, dan musholla yang
lumayan terbilang besar. Akan tetapi masih ada beberapa fasilitas yang kurang
baik, seperti toilet yang tidak terlalu banyak untuk para wisatawan yang tentu
saja hal tersebut akan menimbulkan antrian yang panjang jika libur panjang dan
banyaknya wisatawan yang berkunjung.
![]() |
| Ini merupakan warung yang miliki oleh para pendudukan lokal |
Untuk
pemberdayaan masyarakat lokal di Musem Sangiran yang saya tahu, masyarakat
lokal hanya berjualan di area parkir kendaraan. Mereka memperoleh penghasilan
dari jualan sehari-hari dan kebanyakan yang menjaga warung-warung atau tempat
souvenir adalah seorang wanita. Jarang sekali saya melihat ada laki-laki yang
menjaga warung atau berjualan, selain pedagang yang berjualan membawa gerobak
di motor, seperti cilok dan sosis bakar.
Jadi,
Museum Sangiran merupakan Museum Purbakala terbesar di Asia bahkan di dunia
yang telah dianugerahi sebagai situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada
tahun 1996. Sejak awal didirikannya, Museum ini sudah mengalami perubahan
modernisasi sangat signifikan. Hal tersebut terbukti dari bentuk bangunan dan
fasilitas yang ada di Museum ini sudah canggih mengikuti perkembangan zaman.
Walaupun Museum ini sudah mengalami
modernisasi, ada beberapa aspek yang tidak mengalami modernisasi, seperti akses
internet yang kurang stabil, akses transportasi umum yang belum ada, toilet
yang kurang banyak, pemberdayaan masyarakat lokal yang masih kurang, dan
terakhir tempat sampah yang kurang layak karena hanya ada 1 tong sampah di
beberapa tempat yang digunakan untuk membuang berbagai macam sampah.
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.ilmudasar.com/2017/04/Pengertian-Ciri-dan-Dampak-Modernisasi-adalah.html
https://www.museumindonesia.com/museum/19/1/Museum_Purbakala_Sangiran_Sragen
http://www.idsejarah.net/2017/02/museum-sangiran.html







Sangat membantu
BalasHapus